Pendekatan yang Dipakai dalam Metode Pengajaran Vokal

1. METODE yang bersifat IMITATIF
Pengalaman sebagai pelatih maupun penyanyi membuat saya menyadari ada kemampuan istimewa lain yang diberikan oleh Tuhan pada manusia, yaitu “kemampuan meniru suara yang ada di sekeliling kita”, termasuk meniru suara manusia. Kemampuan ini sering dikatakan oleh banyak orang sebagai talenta.
Sebagai contoh:
Untuk meniru suara head voice -> dengan sekali mendengar seorang penyanyi langsung bisa menirunya, tetapi ketika si penyanyi mengadopsi teknik african-american, ia merasa kesulitan. Maka, diperlukan cara lain untuk membuatnya mengerti serta dapat melakukannya. Ini yang kerap disebut bakat oleh para psikolog dan pelatih vokal.
Nah, pada prakteknya di lapangan, banyak sekali pelatih yang melakukan pelatihan dengan metode “membunyikan suara atau suatu teknik tertentu dengan harapan anak didiknya dapat menirunya”.
Pendekatan ini melahirkan penyanyi yang istimewa karena jumlah orang yang memiliki kemampuan seperti ini sangat sedikit, sehingga sering kita mendengar istilah : “wow…dia begitu berbakat…” pada penyanyi dengan kemampuan seperti ini. Tetapi, dalam proses pendidikan menyanyi konsep seperti ini lebih banyak berharap pada kemampuan si penyanyi, bukan pada metode.

Persentase keberhasilan: hanya 5% dari jumlah rata-rata siswa.

2. METODE yang bersifat SUGESTIF
Saya pernah mengikuti Symposium of Choral Music (simposium nyanyi taraf internasional yang dilaksanakan di Indonesia) dengan para pembicara dari luar negeri. Dalam sebuah sesi tanya jawab, saya bertanya pada seorang profesor vokal dari Amerika, “How to develop my high range?”
Dengan tenangnya Beliau menggambarkan kita melakukan humming, lalu membayangkan suara kita naik keatas. Ketika suara naik keatas, kita akan merasakan getaran yang sangat kuat di daerah depan wajah. Beliau juga memberikan beberapa latihan untuk membuat peserta dapat menggapai impian untuk bernyanyi “On Top of The Register.”
Hal itu membuat saya teringat pada buku-buku yang pernah saya baca baik yang diterbitkan diluar maupun didalam negeri, dimana kebanyakan para ahli menggunakan cara atau metode yang sama untuk mentransfer ilmunya. Yang membedakan masing-masing pendapat adalah exercise yang diberikan, tetapi esensinya akan selalu merujuk pada kondisi sugestif.
Metode sugestif merupakan metode yang mengandalkan imajinasi penyanyi untuk dapat menggerakkan fungsi organ-organ yang berhubungan dengan produksi suara serta koordinasinya, tanpa si penyanyi menyadarinya.
Kekuatan metode ini terletak pada daya imaginasi si penyanyi.

Hasil rata-rata dari pengalaman yang dialami adalah:
– 10% siswa dapat memahami dan melakukannya dengan benar bahkan dalam waktu yang singkat
– 20% bisa memahami, tetapi butuh waktu lebih panjang
– 70% sangat kesulitan, bahkan butuh waktu 1 tahun dengan seminggu sekali pertemuan masih belum dapat memahami dengan baik.
Apalagi, ketika suara si penyanyi diarahkan pada ruang-ruang resonansi untuk mendapatkan resonansi lebih, sehingga suara berkesan bright dan lebar, maka kebingungan akan semakin bertambah. Mereka semakin bingung mengarahkannya.

Kesulitan di atas dapat terjadi karena:
Faktor psikologis:
1. Pada waktu ada usaha imajinatif dari si penyanyi untuk mencapai high note, yang terpikir adalah perlunya “push hard” untuk mengangkat notasi ke atas, cara ini justru berubah menjadi ketegangan yang lebih pada daerah leher
2. Konsentrasi penuh pada breath support malah membuat ketegangan juga pada abdominal muscles, sehingga support tidak terjadi secara maksimal.

Faktor anatomis:
1. Usaha Push Hard di atas membuat sumber kekuatan yang seharusnya ada pada koordinasi vocal cords dan otot lain di sekitarnya berubah menjadi terbebaninya otot leher sehingga terjadi “strain on the neck.”

Bukan berarti metode ini tidak dapat dipraktekkan atau digunakan, kami pun masih menggunakannya sampai sekarang . Sugesti merupakan hal penting dalam memproduksi suara, karena alat-alat produksi tidak dapat dilihat ataupun diraba.
Dengan memengaruhi pikiran, diharapkan si penyanyi dapat menemukan cara untuk melakukan koordinasi otot produksi suara. Nah, dengan sugesti, penyanyi yang mampu menangkap pesan instrukturnya dapat dengan cepat melaksanakannya, tetapi akan sulit bagi yang tidak dapat menangkap pesan dari instruktur mereka.

Kenyataan diatas saya paparkan untuk menyatakan metode sugesti yang ada belum cukup memadai sebagai sebuah cara untuk membuat orang lain mengerti cara untuk memproduksi bunyi yang baik dan indah secara sehat, serta dapat meningkatkan range vokalnya, bila dilihat dari presentasi keberhasilannya.

Setelah diberi excercise dan sugesti lantas si penyanyi tetap tidak mampu melakukannya, maka biasanya langsung di cap “oh talentanya bukan pada nyanyi.” Ini terjadi karena perkembangan teori dan praktek menyanyi selama ini berhenti pada exercise dan sugesti. Menghadapi kenyataan seperti ini, tepatlah kata seorang ahli vokal:
“The boon of one technique to one singer, is the bane to another“
Disamping itu, kemampuan dan pemahaman tentang teknik produksi suara pada tiap pelatih itu berbeda dan sangat variatif. Hal ini semakin menimbulkan kesan menyanyi adalah persoalan yang rumit, tidak semua orang bisa melakukannya, hanyalah mereka yang diberi karunia khususlah yang bisa mendapatkannya. Oh…sedihnya…
(Saya pikir Tuhanpun sedih mendengar hal ini, karena DIA sudah memberikan kemampuan itu pada setiap manusia dan Tuhan memang menghendaki setiap manusia memberikan pujian bagi-NYA. Ini berlaku bagi setiap manusia, apapun agama dan keyakinannya). Menyanyi itu sendiri memang sudah menjadi kemampuan hakiki dari manusia, sesuai dengan kehendak Tuhan, jadi saya mengimani bahwa “Setiap orang pasti bisa menyanyi”.

3. METODE PEMAHAMAN FISIOLOGIS ANATOMIS
Sumber persoalan dari tidak mengertinya banyak penyanyi (orang yang ingin menyanyi) selama ini adalah “Apa yang harus dilakukan oleh organ-organ produksi suara? karena tidak bisa dilihat dan diraba.”
Jawabannya ialah diperlukan metode yang dapat menyentuh langsung sumber persoalannya yaitu metode yang dapat membuka rahasia kerjasama otot di area vocal tract.
Dalam buku The Rock ‘n Roll Survival Manual, Max Baxter mengatakan,
“Now modern technology has finally provided answer to mistery of registers. I don’t think it’s necessary for singers to be scientists, but understanding this information will show you where you’ve been giving control away.”
Untuk memahami semua itu, perlu pengkajian tentang anatomi dan fisiologis dari semua alat-alat produksi suara manusia.

Sebagai contoh:
Untuk mendapatkan Head Voice dengan proyeksi yang benar pada rongga yang ada pada manusia, maka biasanya pelatih akan mengatakan, “berpikir keatas” atau “tembak keatas.” Hal ini biasanya hanya dapat dilakukan oleh sebagian kecil penyanyi, tetapi organ yang berfungsi saat itu samar sekali.
Bila kita menyadari bahwa arythenoid sebagai pelaku utama dalam movement dan coordination untuk mencapai goal yang dimaksud, maka akan mudah sekali membuat si penyanyi mengerti, serta mudah melakukan vocal exercises yang diberikan.

Pemahaman tentang koordinasi otot produksi suara adalah hal penting untuk dapat merancang vocal exercises, yang diharapkan mampu membuat penyanyi dapat melakukan produksi suara atau teknik vokal yang dimaksud oleh instruktur, dimana penyanyi tidak perlu lagi meniru atau membayangkan penempatan suara.

Kursus Vokal KBL, menciptakan Metode Pelatihan Nyanyi dengan Pendekatan Fisiologis Anatomis, yang di namakan MUSCLE COORDINATION METHOD, yang tidak hanya melahirkan penyanyi-penyanyi hebat, tetapi mampu membuat penyanyi memahami mekanisme produksi suara manusia sehingga mempermudah penyanyi untuk menyerap ilmu menyanyi secara lebih gamblang dan mudah mempraktekkannya.
Banyak siswa yang berhasil menjalani program pelatihan kami dan memberikan kesaksian bahwa setelah menggunakan metode ini, mereka lebih mudah memahami yang dikatakan oleh para instruktur.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *